Sunday, 2 November 2014
Kabut Asap Makin Tebal, Sekolah Boleh Libur
PALEMBANG- Makin pekatnya
kabut asap yang terjadi di Metropolis, membuat Dinas Pendidikan, Pemuda dan
Olahraga Palembang mengambil kebijakan.
"Hari ini kabut asap
makin tebal. Kita sudah menghirup udara tidak sehat. Tolong kepala sekolah
sampaikan kepada orang tua murid untuk membekali anaknya dengan masker,"
kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Palembang Ahmad Zulinto saat
menghadiri upacara di SDN 156 Palembang, Senin (3/11).
Dia memerintahkan kepada
seluruh kepala sekolah di Metropolis untuk mengambil tindakan meliburkan
sekolah jika kabut asap makin pekat.
"Jika besok kabut asap
makin pekat, kepala sekolah dapat memulangkan siswa dan tidak menyuruhnya
keluar rumah untuk menghindari penyakit karena asap," ujarnya.
Alih Fungsi Rawa Dikomersialisasi
PALEMBANG – Rawa sebagai salah
satu resapan air makin terancam keberadaannya. Laju pembangunan kota pempek sebagai ibu kota Provinsi Sumsel
menyerang daerah-daerah rawa yang ada di Metropolis.
Ada tiga jenis rawa menurut
peraturan daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pembinaan, Pengendalian,
dan Pemanfaatan Rawa. “Berdasarkan Perda yang ada, sudah jelas disebutkan bahwa
rawa memang boleh dimanfaatkan asal sesuai dengan fungsinya,” kata Kepala Dinas
PU Bina Marga dan PSDA Palembang, Darma Budhi, belum lama ini.
Ada rawa konservasi yang
merupakan lahan genangan air secara alamiah tergenang secara terus-menerus atau
musiman akibat drainase alamiah yang terhambat. Rawa ini punya ciri-ciri khusus
secara fisik, kimiawi, biologis, dan dataran yang tidak dapat dialihfungsikan.
Rawa konservasi untuk menjamin
dan memelihara kelestarian keberadaan rawa sebagai sumber air dan tampungan air
pengendali banjir. Yang kedua, rawa budidaya. Keberadaan rawa ini dipertahankan
fungsinya sebagai rawa berdasarkan pertimbangan teknis, sosial ekonomi, dan
lingkungan.
Tujuannya untuk menjamin dan
memelihara kelestarian keberadaan rawa sebagai sumber air serta dapat
dimanfaatkan untuk permukiman, lahan pertanian, atau perkebunan tanpa melakukan
penimbunan.
Terakhir, rawa reklamasi. Rawa
jenis ini dapat dimanfaatkan dengan cara mengeringkan, menimbun, dan
mengalihfungsikan peruntukkannya dengan tetap memperhatikan fungsi rawa sebagai
daerah tampungan air dan sistem pengendalian air.
“Dari ketiga jenis rawa itu,
hanya rawa reklamasi yang dapat dilakukan penimbunan. Itu pun jika dilakukan
untuk kepentingan masyarakat luas,” tuturnya. Budhi menambahkan, sebenarnya tidak
ada pengaruh langsung antara banjir dengan
penimbunan rawa yang terjadi selama ini.
“Banjir yang terjadi dominan
disebabkan air sungai yang pasang, bukan karena dampak penimbunan rawa. Tapi
harus diakui, saat ini semakin banyak rawa yang ditimbun dan dialihfungsikan
secara komersil,” imbuhnya.
Menurutnya, kalaupun ada yang
disalahkan karena tak sesuainya izin penimbunan rawa, adalah pemerintah
setempat (lurah dan camat, red) yang lalai dan tidak mengetahui persis izin
yang diajukan. “Sebagai pemerintahan
setempat, mereka (lurah dan camat, red) seharusnya lebih mengetahui wilayahnya.
Jika lurah dan camat sudah memberikan izin, artinya sudah sesuai aturan. Kami
(Dinas PU Bina Marga dan PSDA) sifatnya hanya melanjutkan rekomendasi saja,”
cetus Budhi tanpa bermaksud menyalahkan.
Tapi, memang sudah seharusnya
camat dan lurah mengetahui berapa luas daerah rawa dan jenis rawa apa saja yang
ada di wilayah hukum masing-masing. Di dalam Perda No 11 Tahun 2012, hanya ada
data untuk rawa konservasi yang luasnya 2.106,13 hektare dan rawa budidaya
seluas 2.811,21 hektare. Sedangkan rawa reklamasi,
tidak ada datanya. “Rawa reklamasi dapat dialihfungsikan setelah mendapatkan
izin dari wali kota,” cetusnya.
Strada Triton Terus Kuasai Pasar
PALEMBANG – Mitsubishi Strada
Triton masih merajai segmen double cabin dengan penggerak 4x4. Untuuk pasar di
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel),
penyokong terbesar penjualan berasal dari perusahaan pertambangan dan
perkebunan.
“Untuk kelas 4x4 masih
didominasi oleh Triton sekitar 95 persen, kemudian sisanya pajero sport. Market
share juga masih nomor satu baik secara nasional maupun Sumsel,” ujar Isnan
Fahmi, Branch Manager PT Berlian Maju Motor, main diler Mitsubishi di sela-
sela acara Safety Driving Klinik khusus pengguna kelas 4x4 Mitsubishi, akhir
pekan lalu.
Dikatakan, penjualan Strada
Triton dan Pajero Sport telah melampaui target sebanyak 180 unit hingga akhir
tahun. Sementara untuk penjualan all type pihaknya berhasil membukukan 1.600
unit. Rinciannya sebesar 40 persen dari truk, 20 persen pajero, 10 persen
Starda Triton dan sisanya jenis lain.
Sementara itu, dalam acara Safety Driving
Klinik khusus pengguna kelas 4x4 Mitsubishi, dilaksanakan di areal eks areo
modeling, Jl SMB II Palembang, PT Berlian Maju Motors bekerja sama dengan PT
Kramayudha Tiga Berlian Motors membimbing drivers dari perusahaan untuk memahamani
medan jalan untuk kendaraan kelas 4x4 double cabin.
“Setelah mendapatkan latihan
maka pengendaranya dapat memaksimalkan kemampuan kendaraan di medan jalan yang
sulit dilalui seperti di area perkebunan maupun pertambangan. Sebelumnya kita
juga sudah berikan sesi latihan secara teori. Instruktur yang kami datangkan
juga langsung dari ahlinya,” ungkap Dessu, marketing head area Sumatera PT
Kramayudha Tiga Berlian Motors.
Kabut Asap Kembali Pekat
PALEMBANG - Kabut asap yang
menyelimuti Metropolis makin pekat. Jika pada Minggu (2/11), kabut asap kembali
menyerang Palembang tidak terlalu pekat, kali ini kabut asap yang menyelimuti
Metropolis makin pekat, Senin (3/11).
Pekatnya asap yang menyelimuti
jalan dan sudut Kota Palembang membuat pengemudi kendaraan harus menyalakan
lampu untuk menghindari tabrakan. Jarak pandang hanya sekitar 30 meter.
Dodi, salah satu warga mengaku
kabut asap yang kembali melanda Metropolis membuat mata perih. Kabut asap yang
melanda kali ini lebih pekat dibanding sebelumnya. "Ya, kita harus
mengenakan masker," katanya.
Janji Listrik Sumsel Tak Akan Padam Lagi
PALEMBANG - Krisis listrik di Provinsi Sumatera
Selatan benar-benar parah. Petinggi PT PLN Wilayah S2JB (Sumsel, Jambi, dan
Bengkulu) yang selama ini berkoar kalau pemadaman listrik (blackout) lantaran
kerusakan PLTGU AGP Borang kapasitas 150 MW dan gangguan transmisi 150 KV Bukit
Asam-Lahat pengantar 1 dan 2, ternyata menutupi sejumlah permasalahan listrik
lain.
Faktanya, pembangkit lain yakni PLTG Borang 100 MW sudah tak beroperasi
sejak 13 Oktober lalu. Penyebabnya karena terhentinya pasokan gas. “Memang ada masalah dengan pasokan gas di
PLTG Borang. Kami sudah lakukan negosiasi dengan pihak terkait yang memasokkan
gas untuk tambah pasokannya dan percepat negosiasi gas tersebut. Kendala akibat
pasokan gas ini sudah ada sejak 13 Oktober lalu,” ungkap General Manager PT PLN
(Persero) Wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu (S2JB) saat rapat dengan Gubernur
Alex Noerdin di Griya Agung.
Paranai menjelaskan, PLTG Borang tidak mendapatkan pasokan gas lantaran
secara kontraktual gas habis. “Tapi, terhitung Minggu sore (kemarin) sudah
mendapatkan pasokan gas dari PT Medco Energi. PLTG Borang bisa beroperasi
kembali dan memasok listrik untuk masyarakat Sumsel. Kita jamin tak ada lagi
pemadaman.”
Tambah
Paranai, pihaknya minta suplai listrik dari luar Sumsel karena di daerah
tersebut sudah hujan dan PLTA-nya berfungsi dengan baik. “Sumsel ini bukan
hanya gunakan listrik untuk Sumsel sendiri namun juga untuk Lampung. Jika tidak
Lampung akan parah tidak mendapat listrik,” jelasnya.
Solusi ke depan? Kata Paranai, pihaknya akan
melakukan strategi jangka panjang dengan membuat proyek baru. Yakni, sewa
Keramasan 50 MW. Ini sama halnya dengan di Banjar Sari dan Keban Agung.
Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengeluhkan
banyaknya gangguan jaringan listrik selama beberapa hari belakangan. “Banyak
permasalahan Sumsel. Mulai dari asap, air hingga listrik yang sering padam.
Dampaknya, cukup serius. Hampir semua pelayanan menjadi terganggu, seperti
rumah sakit, pemerintahan hingga masyarakat yang mengeluh.”
Alex menjamin jika mulai tadi malam, tidak akan
ada lagi pemadaman listrik. “Saya juga instruksikan seluruh bupati dan wali
kota untuk membentuk tim patroli bersama PLN setempat untuk mengawasi jalur
transmisi, mengingat jalur ini sangat rawan. “Bisa saja ada pohon atau halangan
yang mengganggu. Intinya, Pemprov Sumsel siap membantu untuk penyelesaian
masalah ini, terlebih dalam dua bulan ke depan kita bakal menggelar dua event
yang cukup penting,” pintanya.
BNPB: 99 Persen Kebakaran Hutan Disengaja
PALEMBANG – Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat sendiri terus memantau perkembangan beberap
provinsi penghasil asap. “Di Palembang, jarak pandang 400 meter tadi pagi
(kemarin pagi) pukul 06.00 WIB dan 800 meter pada pukul 08.00 WIB,” kata Kepala
Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kemarin.
Untuk kemarin, jumlah hotspot
Sumsel terbanyak kedua setelah Kalimantan Tengah yang mencapai 1.225 titik.
Sedang di Kalbar 203 titik, Kaltim 32 titik, dan Lampung 20 titik. Di Sumsel,
data yang diterima BNPN mencapai 344 titik. Sebanyak 320 titik berada di
wilayah OKI. “Itu artinya, 93 persen hotspot Sumsel ada di OKI. Sudah sejak dua
bulan ini OKI sumber kebakaran lahan dan hutan di Sumsel,” bebernya.
Ditegaskan Sutopo, 99 persen
penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah disengaja. Bahkan kawasan konservasi
seperti suaka margasatwa Padang Sugihan pun terbakar. Ada 11 hotspot di sana.
“Modusnya adalah alasan ekonomi, karena pembukaan lahan dengan jalan pembakaran
lebih murah,” cetusnya.
Jika arah angin tidak berubah,
asap dari kebakaran lahan dan hutan di Sumsel akan tiba di Singapura. Perkiraan
itu diungkap Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi Badan Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) SMB II Palembang, Agus Santosa di Griya Agung,
Sabtu (1/11).
“Saat ini, rezeki (asap) itu sudah tiba di
Jambi,” katanya di hadapan peserta rapat membahas persoalan asap yang dipimpin
langsung oleh Gubernur Sumsel H Alex Noerdin. Saat ini, arah angin cukup
mendukung untuk asap kiriman Sumsel tiba di Negeri Singa.
“Jika arah angin tidak
berubah, bisa jadi ribut,” cetusnya. Jarak pandang (visibility) terendah karena
kabut asap di Sumsel selama Oktober lalu yakni 200 meter. Sementara belakangan
ini, paling pendek hanya 1.000 meter. Kondisi buruknya jarak pandang ini
rata-rata pada pagi hari






